Mengubah “Limbah” Jadi Emas: Inovasi TeFa SMK Negeri 1 Pakis Aji Tembus 30 Besar Best Practice Simposium Nasional Ketahanan Pangan KEMENDIKDASMEN
Kabar membanggakan datang dari SMK Negeri 1 Pakis Aji. Karya tulis ilmiah berbasis praktik baik (best practice) yang disusun oleh Tim SMK N 1 Pakis Aji berhasil lolos kurasi dalam ajang bergengsi Simposium Nasional “Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Artikel karya tim SMK Negeri 1 Pakis Aji ini terpilih sebagai 30 Artikel Terbaik dari total 120 naskah yang masuk, menyisihkan kompetitor dari 99 SMK yang tersebar di 22 provinsi di seluruh Indonesia.
Esensi Teaching Factory: Menjawab Masalah Lokal dengan Solusi Global
Pencapaian ini bukan sekadar kemenangan akademis, melainkan bukti nyata keberhasilan penerapan model pembelajaran Teaching Factory (TeFa). Dalam simposium ini, tim penulis yang terdiri dari 1)Lusia Yenny Mulyaningtyas, 2)Patto Prawansyah, 3)Kristin Wahyuni, dan 4)Nizar Zulmi mengangkat judul:
“Diversifikasi Pangan Pesisir: Pemanfaatan Ikan Rucah Dan Latoh (Caulerpa Sp.) Menjadi Frozen Food Cireng Berprotein dan Berserat Tinggi Melalui Model Pembelajaran Teaching Factory di Konsentrasi Keahlian APHP – SMK Negeri 1 Pakis Aji Jepara.”
Artikel yang masuk dalam 3 artikel terbaik kategori “Dari Kolam ke Pasar: Budidaya Ikan dan Pengolahan Hasil Perikanan” ini menyoroti bagaimana pembelajaran di SMK tidak hanya berhenti di teori, tetapi hadir sebagai problem solver bagi isu di masyarakat.
Kontribusi SMK Negeri 1 Pakis Aji untuk Ketahanan Pangan Nasional
Jepara, sebagai wilayah pesisir, memiliki potensi hasil laut yang melimpah namun memiliki tantangan tersendiri. Tim APHP SMK N 1 Pakis Aji jeli melihat dua fenomena:
- Ikan Rucah (Bycatch): Ikan hasil tangkapan sampingan yang sering dianggap bernilai ekonomis rendah, bahkan dibuang.
- Latoh (Anggur Laut): Komoditas lokal kaya nutrisi namun sangat mudah rusak (perishable) dan cepat layu.
Melalui pendekatan TeFa, siswa diajak berpikir kritis untuk mengolah kedua bahan tersebut menjadi produk modern yang bernilai jual tinggi, yaitu Frozen Food Cireng. Inovasi ini mengubah komoditas yang “murah” dan “mudah rusak” menjadi produk yang awet, praktis, serta memiliki kandungan protein dan serat yang tinggi.
Inilah wujud nyata kontribusi pendidikan vokasi, khususnya jurusan APHP, dalam mendukung ekosistem ketahanan pangan nasional. Siswa tidak hanya diajarkan memasak, tetapi juga diajarkan manajemen produksi, pengawetan pangan, hingga melihat peluang pasar (hilirisasi produk).
Menuju SMK Pusat Keunggulan yang Berkelanjutan
Lolosnya artikel ini membuktikan bahwa dedikasi para guru dan kepala sekolah SMK Negeri 1 Pakis Aji dalam menciptakan iklim pembelajaran yang inovatif telah diakui secara nasional. Semangat antusiasme untuk mengubah tantangan lapangan menjadi peluang inilah yang menjadi ruh dari revitalisasi SMK.
Semoga prestasi ini menjadi pemantik semangat bagi seluruh warga sekolah untuk terus berkarya, berinovasi, dan membuktikan bahwa SMK Bisa, SMK Hebat, serta siap menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan pangan Indonesia.
Selamat kepada Tim Penulis SMK Negeri 1 Pakis Aji!
“Dari Jepara untuk Indonesia: Ketika Ikan Rucah dan Latoh Naik Kelas di Tangan Siswa Vokasi.”







Patto Prawansyah, S.ST.Pi.



